live was like a box of chocolates, you never know what you're gonna get (Forrest Gump)
Selasa, 04 Januari 2011
Jeda
Kita duduk bersisian, tapi sedari tadi mata kita tidak juga bertemu. Kamu bilang malu, sedang aku tidak tahu. Kamu salah tingkah, dan tak berani mengambil langkah. Aku ingin kamu maju, tapi kamu tidak ma(mp)u. Oke kalau begitu, mari kita sudahi dahulu. Memberikan jeda, yang aku harap hanya sementara.
Selasa, 28 Desember 2010
Menjadi Dewasa
Menjadi dewasa ternyata tidak sesederhana meniup lilin di atas kue ulang tahun. Aku tahu aku masih mencoba menjadi dewasa dan masih belajar mempelajari hidup. Tapi semoga beberapa pelajaran yang aku peroleh belakangan in iberhasil membuatku lebih dewasa.
Dewasa, adalah saat kita bisa menyeimbangkan emosi dan logika.
Adalah saat kita bisa menggunakan perspektif yang berbeda dalam memandang dunia.
Adalah saat kita bisa tetap menerima segala keputusan Dia.
Dan dewasa adalah saat kita mampu berdamai dengan kenyataan.
Love,
Fela.
Dewasa, adalah saat kita bisa menyeimbangkan emosi dan logika.
Adalah saat kita bisa menggunakan perspektif yang berbeda dalam memandang dunia.
Adalah saat kita bisa tetap menerima segala keputusan Dia.
Dan dewasa adalah saat kita mampu berdamai dengan kenyataan.
Love,
Fela.
Sabtu, 18 September 2010
From me, to You
Untuk Kamu, maha dari segala maha...
Maafkan aku yang selalu mengecewakannya, dan mengecewakanMu.
Maafkan aku yang mudah menggerutu. Mengeluhkan berbagai hal yang sebenarnya indah, bila saat itu aku cukup mengerti maknanya. Aku menggerutu saat Kamu tidak juga mendengarkan pintaku. Aku menggerutu saat Kamu tidak juga meraih tanganku, membantuku bangkit dari kejatuhan yang menyakitkan. Aku menggerutu, selalu menggerutu.
Maafkan aku yang pernah sangat marah padaMu, ketika Kamu akhirnya memanggil seorang sahabatku untuk pulang. Aku marah karena mengira Kamu tidak adil. Demi apapun, Kamu hanya memberinya waktu satu tahun untuk berjuang.
Maafkan aku yang dulu pernah hampir tidak percaya dengan kuasaMu, ketika Kamu tidak juga mengabulkan pintaku. Menempatkan aku dan mereka yang kusayangi di tepian terluar dari tebing yang tinggi, hampir jatuh sebentar lagi.
Tapi, sepatutnyakah aku masih mengeluh sekarang? Saat aku kemudian mengerti, semua yang Kau lakukan untukku itu karena Kamu sayang padaku? Sudah sepatutnya aku berterimakasih karena kamu telah membiarkanku jatuh. Jatuh, hingga ke lubangmu yang paling gelap, paling dalam, paling dingin. Bukankah hanya dengan jatuh kita bisa belajar untuk kembali berdiri? Memang, saat itu aku merasakan sakitnya. Memar, biru, lebam. Namun di akhirnya, bukankah dengan itu aku menjadi semakin kuat, Tuhan? Iya kan?
Tapi dan tapi, aku juga patut berterima kasih padamu karena telah memanggilnya pulang cepat-cepat. Sekarang aku baru mengerti, bahwa bukan karena kamu jahat maka kamu memanggilnya. Justru karena kamu sangat sayang padanya, maka kamu memanggilnya. Bodohnya aku.. bila kamu memberinya tambahan waktu setahun saja, pasti sakit yang dia rasakan akan berlipat ganda. Dan aku, aku serta mereka semua yang menyayanginya, pasti tidak akan tega. maka terima kasih, untuk sedikit waktu yang kamu sediakan untuk dia.
Tapi, tapi dan tapi... aku juga sudah selayaknya berterima kasih padaMu. Kalau saja dulu kamu tidak menempatkanku dan mereka yang kusayangi di tepian terluar tebing yang tinggi, hingga kami bisa melihat betapa dalam-curam-gelap-dan mengerikannya jurang di bawah kami, maka aku tidak akan bisa bersyukur akan nikmatnya memiliki mereka. Kamu membuatku sadar, bahwa keluarga adalah hartaku yang paling berharga. Bahwa keluarga adalah rumahku yang sebenar-benarnya, tempatku berpulang sejauh apapun aku berkelana. Untuk itu, aku berterima kasih.
Pada akhirnya di ujung senja, saat warna langit telah berubah menjadi gradasi orange-merah..
Aku sadar bahwa tidak ada yang Kau turunkan untukku selain nikmatMu. Terima kasih. Banyak terima kasih. Ah.. Semua terima kasihku tidak cukup, aku kira.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
(Ar-rahman, 13)
Maafkan aku yang selalu mengecewakannya, dan mengecewakanMu.
Maafkan aku yang mudah menggerutu. Mengeluhkan berbagai hal yang sebenarnya indah, bila saat itu aku cukup mengerti maknanya. Aku menggerutu saat Kamu tidak juga mendengarkan pintaku. Aku menggerutu saat Kamu tidak juga meraih tanganku, membantuku bangkit dari kejatuhan yang menyakitkan. Aku menggerutu, selalu menggerutu.
Maafkan aku yang pernah sangat marah padaMu, ketika Kamu akhirnya memanggil seorang sahabatku untuk pulang. Aku marah karena mengira Kamu tidak adil. Demi apapun, Kamu hanya memberinya waktu satu tahun untuk berjuang.
Maafkan aku yang dulu pernah hampir tidak percaya dengan kuasaMu, ketika Kamu tidak juga mengabulkan pintaku. Menempatkan aku dan mereka yang kusayangi di tepian terluar dari tebing yang tinggi, hampir jatuh sebentar lagi.
Tapi, sepatutnyakah aku masih mengeluh sekarang? Saat aku kemudian mengerti, semua yang Kau lakukan untukku itu karena Kamu sayang padaku? Sudah sepatutnya aku berterimakasih karena kamu telah membiarkanku jatuh. Jatuh, hingga ke lubangmu yang paling gelap, paling dalam, paling dingin. Bukankah hanya dengan jatuh kita bisa belajar untuk kembali berdiri? Memang, saat itu aku merasakan sakitnya. Memar, biru, lebam. Namun di akhirnya, bukankah dengan itu aku menjadi semakin kuat, Tuhan? Iya kan?
Tapi dan tapi, aku juga patut berterima kasih padamu karena telah memanggilnya pulang cepat-cepat. Sekarang aku baru mengerti, bahwa bukan karena kamu jahat maka kamu memanggilnya. Justru karena kamu sangat sayang padanya, maka kamu memanggilnya. Bodohnya aku.. bila kamu memberinya tambahan waktu setahun saja, pasti sakit yang dia rasakan akan berlipat ganda. Dan aku, aku serta mereka semua yang menyayanginya, pasti tidak akan tega. maka terima kasih, untuk sedikit waktu yang kamu sediakan untuk dia.
Tapi, tapi dan tapi... aku juga sudah selayaknya berterima kasih padaMu. Kalau saja dulu kamu tidak menempatkanku dan mereka yang kusayangi di tepian terluar tebing yang tinggi, hingga kami bisa melihat betapa dalam-curam-gelap-dan mengerikannya jurang di bawah kami, maka aku tidak akan bisa bersyukur akan nikmatnya memiliki mereka. Kamu membuatku sadar, bahwa keluarga adalah hartaku yang paling berharga. Bahwa keluarga adalah rumahku yang sebenar-benarnya, tempatku berpulang sejauh apapun aku berkelana. Untuk itu, aku berterima kasih.
Pada akhirnya di ujung senja, saat warna langit telah berubah menjadi gradasi orange-merah..
Aku sadar bahwa tidak ada yang Kau turunkan untukku selain nikmatMu. Terima kasih. Banyak terima kasih. Ah.. Semua terima kasihku tidak cukup, aku kira.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
(Ar-rahman, 13)
C'est la Vie, Peeps!
Kuterka sekarang sudah sekitar satu warsa,
sejak anda kulihat kali pertama
Dengan gitar kayu berpliturmu, merangkai nada yang tak akan pernah bisa kulupa hingga sewarsa sesudahnya
Saya tidak pernah mengira,
ternyata sesimpel itu saya kemudian mengaggumi anda
Sesederhana itu saya kemudian jatuh dalam satu lingkaran setan yang belum putus-putus juga
Sayang, perjalanan setelah itu yang justru tidak sederhana
Endingnya?
Menyakitkan, seperti yang telah kuduga
But, c'est la vie, Peeps :)
sejak anda kulihat kali pertama
Dengan gitar kayu berpliturmu, merangkai nada yang tak akan pernah bisa kulupa hingga sewarsa sesudahnya
Saya tidak pernah mengira,
ternyata sesimpel itu saya kemudian mengaggumi anda
Sesederhana itu saya kemudian jatuh dalam satu lingkaran setan yang belum putus-putus juga
Sayang, perjalanan setelah itu yang justru tidak sederhana
Endingnya?
Menyakitkan, seperti yang telah kuduga
But, c'est la vie, Peeps :)
Pilihan atau Tidak?
Mencintaimu adalah sebuah pilihan. Pilihan yang akan menghantarkan aku dalam sebuah perjalanan yang dapat kuduga ujungnya. Pilihan yang kupilih, justru karena sikapmu yang selalu tidak dapat kuduga.
Sebenarnya, mencintaimu mungkin bukanlah suatu pilihan.
Mungkin mencintaimu adalah suatu keharusan. Karena seperti manusia yang harus makan, hanya kamu yang bisa membuatku kenyang. Aku tidak mau yang lain, karena memang aku tidak doyan. Meski mencintaimu akan membuatku meninggal keracunan. Meski mencintaimu berarti mutlak hanya mencintai. Absolut, tanpa dicintai olehmu.
Sebenarnya, mencintaimu mungkin bukanlah suatu pilihan.
Mungkin mencintaimu adalah suatu keharusan. Karena seperti manusia yang harus makan, hanya kamu yang bisa membuatku kenyang. Aku tidak mau yang lain, karena memang aku tidak doyan. Meski mencintaimu akan membuatku meninggal keracunan. Meski mencintaimu berarti mutlak hanya mencintai. Absolut, tanpa dicintai olehmu.
Dan Kamu, Akhirnya Pulang.
Dan aku menatapmu ragu. Dua jam lebih kita terdiam. Menyelimuti ruang dengan hening. Namun ada suatu masa, di mana kita sudah tidak lagi membutuhkan aksara untuk menyalurkan makna. Seperti momen ini. Sinar mata telah mampu menggantikan kata, aku kira.
Dan kamu menarik napas lagi, satu-satu. Membuat raguku semakin menipis. Berubah menjadi takut.
Dan aku mulai menemukan matamu yang merapuh. Seperti kaca hampir pecah. Saput tipis air pelan-pelan berubah menjadi tirai air mata. Raguku menghilang. Aku hampir yakin, dapat memastikan apa yang hendak kau utarakan. Apa yang akan terjadi detik berikutnya, mendadak menjadi jelas. Sejelas air mata yang kemudian turun merembes, meleleh melalui pipimu yang menirus.
Dan mata hitam kenarimu yang selalu kurindukan itu, tertutup sudah.
Dan kamu, akhirnya pulang.
Dan kamu menarik napas lagi, satu-satu. Membuat raguku semakin menipis. Berubah menjadi takut.
Dan aku mulai menemukan matamu yang merapuh. Seperti kaca hampir pecah. Saput tipis air pelan-pelan berubah menjadi tirai air mata. Raguku menghilang. Aku hampir yakin, dapat memastikan apa yang hendak kau utarakan. Apa yang akan terjadi detik berikutnya, mendadak menjadi jelas. Sejelas air mata yang kemudian turun merembes, meleleh melalui pipimu yang menirus.
Dan mata hitam kenarimu yang selalu kurindukan itu, tertutup sudah.
Dan kamu, akhirnya pulang.
Senin, 01 Februari 2010
selalu saja ada paradoks
Aku ingin bertanya padamu,
Berapa kali kau pernah dikecewakan hidup??
Berkali-kali pasti
Saat aku dikecewakan lagi olehnya,
Aku terbiasa menarik napas panjang,
Ingin membuang kepengapan di dalam
Tapi ketika aku dikecewakannya lagi dan lagi..
Aku merasa semua sia-sia saja
Mengapa Dia terus saja menguji
Adakah sebenarya dia hanya ingin aku lebih merundukkan kepala?
Bersyukur?
Oke, aku akan bersyukur
Tapi ajarkan bagaimana caranya!!!
Bagaimana aku bisa mengucap terima kasih saat Dia belum pernah mengabulkan pintaku!!!
Aku tahu permainannya
Aku tahu bagaimana paradigmanya
Aku tahu paradoksnya!!!!!!!!!!!!
Paradoks antara pintaku, pintamu dan pinta mereka.
Tapi aku ingin sekali saja, sekali saja
Sekarang, detik ini, saat ini juga
Dia tunjukkan padaku,
Buktikan padaku bahwa kali ini pintaku yang Dia penuhi.
Aku mohon
Selagi aku masih mau memohon padaNya
Selagi aku masih percaya padaNya.
Aku mohon,
Jangan kecewakan aku lagi.
Berapa kali kau pernah dikecewakan hidup??
Berkali-kali pasti
Saat aku dikecewakan lagi olehnya,
Aku terbiasa menarik napas panjang,
Ingin membuang kepengapan di dalam
Tapi ketika aku dikecewakannya lagi dan lagi..
Aku merasa semua sia-sia saja
Mengapa Dia terus saja menguji
Adakah sebenarya dia hanya ingin aku lebih merundukkan kepala?
Bersyukur?
Oke, aku akan bersyukur
Tapi ajarkan bagaimana caranya!!!
Bagaimana aku bisa mengucap terima kasih saat Dia belum pernah mengabulkan pintaku!!!
Aku tahu permainannya
Aku tahu bagaimana paradigmanya
Aku tahu paradoksnya!!!!!!!!!!!!
Paradoks antara pintaku, pintamu dan pinta mereka.
Tapi aku ingin sekali saja, sekali saja
Sekarang, detik ini, saat ini juga
Dia tunjukkan padaku,
Buktikan padaku bahwa kali ini pintaku yang Dia penuhi.
Aku mohon
Selagi aku masih mau memohon padaNya
Selagi aku masih percaya padaNya.
Aku mohon,
Jangan kecewakan aku lagi.
hidup dan dilemanya
Aku sedang berusaha mencintai hidupku, apa adanya
Meski memang, dalam implementasinya hidup terkadang menemukanku dengan caranya sendiri
Dengan caranya yang menyakitkan
Dengan caranya yang tidak sesuai keinginan kita
Tapi tetap harus kuakui, hidup itu indah
Bukankah hidup memang selalu tidak sesuai harapan?
Apa namanya bila kau hidup dalam dunia yang penuh dengan kepastian?
Apa namanya bila kau hidup dalam dunia yang penuh dengan busa tawa?
Aku jamin, itu bukan hidup namanya
Hidup adalah saat aku berani mencintai hidup, meskipun dia berjalan tidak sesuai kehendak
Hidup adalah saat aku berani untuk memutuskan berubah, menjadi pribadi yang lebih baik
Meski itu berarti keluar dari comfort zone-ku
Menjadi dewasa adalah saat aku berani menghadapi segala penyesalan,
Adalah saat aku dapat menerima sesuatu yang tak akan dapat kuubah
Adalah saat aku dapat terus bangkit, dari jatuhku yang dalam
Nah, bagaimana bisa aku menjadi dewasa, kalau aku tidak pernah merasakan jatuh?
Merasakan dinginnya, gelapnya, putus asanya suatu kegagalan?
Kalau aku sedang merasakannya sekarang, jangan bersedih, jangan menyerah dengan keadaan!
Karena sejengkal lagi aku akan menjadi dewasa,
Sejengkal lagi aku akan meraihnya
Aku tidak akan menjadi seseorang yang menyerah
Tidak akan pernah.
Meski memang, dalam implementasinya hidup terkadang menemukanku dengan caranya sendiri
Dengan caranya yang menyakitkan
Dengan caranya yang tidak sesuai keinginan kita
Tapi tetap harus kuakui, hidup itu indah
Bukankah hidup memang selalu tidak sesuai harapan?
Apa namanya bila kau hidup dalam dunia yang penuh dengan kepastian?
Apa namanya bila kau hidup dalam dunia yang penuh dengan busa tawa?
Aku jamin, itu bukan hidup namanya
Hidup adalah saat aku berani mencintai hidup, meskipun dia berjalan tidak sesuai kehendak
Hidup adalah saat aku berani untuk memutuskan berubah, menjadi pribadi yang lebih baik
Meski itu berarti keluar dari comfort zone-ku
Menjadi dewasa adalah saat aku berani menghadapi segala penyesalan,
Adalah saat aku dapat menerima sesuatu yang tak akan dapat kuubah
Adalah saat aku dapat terus bangkit, dari jatuhku yang dalam
Nah, bagaimana bisa aku menjadi dewasa, kalau aku tidak pernah merasakan jatuh?
Merasakan dinginnya, gelapnya, putus asanya suatu kegagalan?
Kalau aku sedang merasakannya sekarang, jangan bersedih, jangan menyerah dengan keadaan!
Karena sejengkal lagi aku akan menjadi dewasa,
Sejengkal lagi aku akan meraihnya
Aku tidak akan menjadi seseorang yang menyerah
Tidak akan pernah.
jatuh (tanpa) cinta
Ada orang pernah bercanda,
Jatuh cinta akan membuatmu menjadi penyair seketika
Kali ini biarkan aku yang bercanda,
Jatuh, tanpa cinta, akan membuatmu menjadi penyair paling hebat sepanjang masa
Jatuh, karena kecewa
Jatuh, karena terjegal kerasnya hidup
Jatuh, karena kau terlalu lelah untuk tegap kembali
Jatuh, dan merasakan dinginnya di kedalaman sana
Jatuh, dan tidak bisa melihat apapun di sana saking gelapnya
Kau hanya ingin orang lain jatuh bersamamu
Karenanya kau menyalurkan rasamu melalui aksara
Kau hanya ingin orang lain ikut merasakan perihnya
Kau hanya ingin orang lain ada di sisimu, hingga takutmu menjadi berkurang
Kau hanya ingin orang lain ada di sisimu, hingga beban nistamu tak seberat sebelumnya
Aku tidak membicarakan orang lain yang berkonotasi kekasih
Aku membicarakan orang lain yang memang orang lain adanya
orang lain yang tidak kau sayangi hingga kau tega menariknya dalam jurang yang sama denganmu
Jatuh cinta akan membuatmu menjadi penyair seketika
Kali ini biarkan aku yang bercanda,
Jatuh, tanpa cinta, akan membuatmu menjadi penyair paling hebat sepanjang masa
Jatuh, karena kecewa
Jatuh, karena terjegal kerasnya hidup
Jatuh, karena kau terlalu lelah untuk tegap kembali
Jatuh, dan merasakan dinginnya di kedalaman sana
Jatuh, dan tidak bisa melihat apapun di sana saking gelapnya
Kau hanya ingin orang lain jatuh bersamamu
Karenanya kau menyalurkan rasamu melalui aksara
Kau hanya ingin orang lain ikut merasakan perihnya
Kau hanya ingin orang lain ada di sisimu, hingga takutmu menjadi berkurang
Kau hanya ingin orang lain ada di sisimu, hingga beban nistamu tak seberat sebelumnya
Aku tidak membicarakan orang lain yang berkonotasi kekasih
Aku membicarakan orang lain yang memang orang lain adanya
orang lain yang tidak kau sayangi hingga kau tega menariknya dalam jurang yang sama denganmu
aku tidak suka
Aku sudah menebaknya
Sejak semula
Tapi kali ini aku tak akan rela jika benar tebakanku
Aku lebih memilih kalah lotere ribuan juta daripada merasakan sakit lagi
Egoku terus kau ungguli
Aku tidak suka
Sejak semula
Tapi kali ini aku tak akan rela jika benar tebakanku
Aku lebih memilih kalah lotere ribuan juta daripada merasakan sakit lagi
Egoku terus kau ungguli
Aku tidak suka
masih perlukah aksara?
Depresi. Stress. Hampir gila.
Mengapa tidak ada yang mengerti??
Perlukah aksara bila ekspresi bisa menjelaskan semua?
Perlukah aku menjelaskan satu satu ke semua?
Bila sedetik lagi aku menjadi gila?
Bila sedetik lagi aku akan meraih pisau di sana dan menggoreskannya ke nadiku?
Tolong.
Ada pembunuh di dalam diriku
Pembunuh yang akan meracuni pikiran dan hatiku,
Sedikit demi sedikit
Namun pasti adanya
Mengapa tidak ada yang mengerti??
Perlukah aksara bila ekspresi bisa menjelaskan semua?
Perlukah aku menjelaskan satu satu ke semua?
Bila sedetik lagi aku menjadi gila?
Bila sedetik lagi aku akan meraih pisau di sana dan menggoreskannya ke nadiku?
Tolong.
Ada pembunuh di dalam diriku
Pembunuh yang akan meracuni pikiran dan hatiku,
Sedikit demi sedikit
Namun pasti adanya
dilema
Ada orang yang pernah bilang, lebih baik aku menjadi lampu yang bersinar redup, namun berada di tengah kegelapan
Daripada menjadi lampu dengan sinar yang menyala terang, namun berada di antara lampu-lampu mercusuar
Adakah kau menangkap sarkasme di sana?
Adakah kau menangkap suatu ketidakpercayaan?
Adakah kau menangkap suatu ketakutan? Suatu kerendahan?
Suatu rasa yang membuatmu terpaksa menciut, bersembunyi di balik semua digdaya
Digdaya yang seharusnya kau miliki, tapi tak pernah engkau keluarkan
Karena kau tidak memberinya kesempatan
Bah, katakan padaku apa itu kesempatan!!
Masih adakah kesempatan untuk sebuah sinar, untuk diperhatikan, apabila dia bersanding di antara jutaan lampu yang juga bersinar semua?
Sepasang mata akan bingung untuk memilih,
Kalau saja aku masih bisa memilih,
Aku bingung hendak memilih tempat yang mana
Namun sejujurnya, aku merindukan tempatku terdahulu,
Di dalam suatu ruangan yang pengap dan gelap,
Namun dengan sepasang mata yang bersorot lembut, mengucapkan terima kasih karena aku telah menerangi gelapnya
Seberapa reduppun sinarku, tapi paling tidak hanya aku seorang lampu yang menyala di sana.
Daripada menjadi lampu dengan sinar yang menyala terang, namun berada di antara lampu-lampu mercusuar
Adakah kau menangkap sarkasme di sana?
Adakah kau menangkap suatu ketidakpercayaan?
Adakah kau menangkap suatu ketakutan? Suatu kerendahan?
Suatu rasa yang membuatmu terpaksa menciut, bersembunyi di balik semua digdaya
Digdaya yang seharusnya kau miliki, tapi tak pernah engkau keluarkan
Karena kau tidak memberinya kesempatan
Bah, katakan padaku apa itu kesempatan!!
Masih adakah kesempatan untuk sebuah sinar, untuk diperhatikan, apabila dia bersanding di antara jutaan lampu yang juga bersinar semua?
Sepasang mata akan bingung untuk memilih,
Kalau saja aku masih bisa memilih,
Aku bingung hendak memilih tempat yang mana
Namun sejujurnya, aku merindukan tempatku terdahulu,
Di dalam suatu ruangan yang pengap dan gelap,
Namun dengan sepasang mata yang bersorot lembut, mengucapkan terima kasih karena aku telah menerangi gelapnya
Seberapa reduppun sinarku, tapi paling tidak hanya aku seorang lampu yang menyala di sana.
terluka
Apa peduliku akan empati
Apa peduliku akan simpati
Aku tidak peduli lagi
Kau telah terlanjur mengoyak-ngoyak perasaanku
Seperti sebelumnya, seperti biasanya
Diammu menambah luka
Itulah yang paling salah!!
Kau tidak pernah berbuat salah!
Itulah yang paling salah, yang paling menyakitiku
Apa peduliku akan simpati
Aku tidak peduli lagi
Kau telah terlanjur mengoyak-ngoyak perasaanku
Seperti sebelumnya, seperti biasanya
Diammu menambah luka
Itulah yang paling salah!!
Kau tidak pernah berbuat salah!
Itulah yang paling salah, yang paling menyakitiku
mati untuk hidup
Aku harus bagaimana?
Biarkan aku menikmati kematian ini sejenak,
Biarkan aku menikmati sakit ini sejenak,
Jangan kau kira aku menyerah bersama kekalahan
Aku hanya berdamai dengannya
Perihnya, hendak kukekalkan dahulu
Sebelum aku melangkah maju,
Dan kukalahkan hidup
Biarkan aku menikmati kematian ini sejenak,
Biarkan aku menikmati sakit ini sejenak,
Jangan kau kira aku menyerah bersama kekalahan
Aku hanya berdamai dengannya
Perihnya, hendak kukekalkan dahulu
Sebelum aku melangkah maju,
Dan kukalahkan hidup
lost.
Bisikkan padaku, yang mana batasnya!
Di mana batasnya!
Karena saat itu aku tidak merasa pernah melewatinya,
Karena saat itu aku tidak melihat pernah melewatinya,
Karena saat itu aku tidak mendengar orang berteriak padaku, hendak mencegah kakiku yang akan melanggarnya
Namun sekarang setelah aku sadar,
Aku telah jauh sekali dari setapak kecil jalanku,
Aku tersesat.
Tanganku menggapai
Sia-sia, yang ada aku menemukan tangan ini membeku di udara
Kaki-kakiku berlari mundur ke belakang
Sia-sia, yang ada aku hanya menemukan tanah lapang tanpa batas
Garis horizon di belakangku, seakan terlalu angkuh untuk disentuh
Aku ingin kembali,
Ke setapak kecil jalanku
Aku ingin kembali,
Merasakan betapa indahnya jalanan itu
Merasakan betapa kuatnya pijakan kakiku dulu
Ya Tuhan, Astaga....
Aku telah tersesat.
AKU INGIN PULANG
Di mana batasnya!
Karena saat itu aku tidak merasa pernah melewatinya,
Karena saat itu aku tidak melihat pernah melewatinya,
Karena saat itu aku tidak mendengar orang berteriak padaku, hendak mencegah kakiku yang akan melanggarnya
Namun sekarang setelah aku sadar,
Aku telah jauh sekali dari setapak kecil jalanku,
Aku tersesat.
Tanganku menggapai
Sia-sia, yang ada aku menemukan tangan ini membeku di udara
Kaki-kakiku berlari mundur ke belakang
Sia-sia, yang ada aku hanya menemukan tanah lapang tanpa batas
Garis horizon di belakangku, seakan terlalu angkuh untuk disentuh
Aku ingin kembali,
Ke setapak kecil jalanku
Aku ingin kembali,
Merasakan betapa indahnya jalanan itu
Merasakan betapa kuatnya pijakan kakiku dulu
Ya Tuhan, Astaga....
Aku telah tersesat.
AKU INGIN PULANG
Minggu, 20 Desember 2009
Kangen kamu, Affan ;(
Hari ini genap satu warsa titikmu mengabur,
dan lebur dalam gradasi merah-orange langit senja
sudahkah kau temukan damai di sana?
dan lebur dalam gradasi merah-orange langit senja
sudahkah kau temukan damai di sana?
Jumat, 18 Desember 2009
Dan Saat Aku Melihatmu Menangis.....
.... Percayalah mirisnya hatiku berlipat ganda apabila kau bandingkan dengan milikmu.
Aku percaya manusia juga dibentuk dengan luka. Sesuatu yang membuatmu tertawa akan lenyap dalam beberapa kejap saja. Namun esensi luka, tidak segampang itu akan kau lupakan. Mungkin lukaku tak seberapa bila dibandingkan dengan perih yang dirasakan seorang Ibu suku Tutsi yang kehilangan suami-anak-orangtuanya yang dibantai. Namun biarlah aku sedikit berbagi tentang lukaku.
Di dunia ini, hatiku terbagi enam. Well, sebenarnya aku memiliki dua belas bagian hati. Enam telah kuberikan kepadaNya. Sisanya, untuk mereka yang benar-benar aku cintai. Tahukah kamu, bagaimana rasanya memiliki hati yang terbagi enam? Boleh dikata, nyawa yang terbagi enam juga. Untuk enam orang yang berbeda, kupercayakan hatiku untuk mereka.
Saat mereka gembira, rasa gembiraku turut meluber ke mana-mana. Tetapi saat aku melihat salah satu dari mereka menangis, percayalah mirisnya hatiku berlipat ganda apabila kalian bandingkan dengan milik kalian.
Keningmu yang berkerut, membuat otakku ikut mendidih memikirkan solusi.
Kegagalanmu, aku anggap sebagai kegagalanku. Sepenuhnya. Maka aku tak boleh gagal agar kau tidak akan pernah merasakan hal yang sama.
Matamu yang nanar seperti kaca yang hendak merapuh, sukses membuat hatiku ikut sesak. Seperti ada tekanan gas yang mendesak di dalam. Aku akan pura-pura tegar dan menenangkanmu. Tapi tahukah kamu, saat punggungmu tak terlihat dan aku tak sanggup untuk menahannya lagi, luruhlah semua air ini.
Tak bisa kupungkiri, aku sering meledak saat menyadarimu melakukan kesalahan. Tapi semua itu hanya karena aku terlalu khawatir padamu.
Aku ikut terluka.. setiap kali melihat kalian luka. Sekecil apapun, itu cukup menggores hatiku. Perih.
Aku percaya manusia juga dibentuk dengan luka. Sesuatu yang membuatmu tertawa akan lenyap dalam beberapa kejap saja. Namun esensi luka, tidak segampang itu akan kau lupakan. Mungkin lukaku tak seberapa bila dibandingkan dengan perih yang dirasakan seorang Ibu suku Tutsi yang kehilangan suami-anak-orangtuanya yang dibantai. Namun biarlah aku sedikit berbagi tentang lukaku.
Di dunia ini, hatiku terbagi enam. Well, sebenarnya aku memiliki dua belas bagian hati. Enam telah kuberikan kepadaNya. Sisanya, untuk mereka yang benar-benar aku cintai. Tahukah kamu, bagaimana rasanya memiliki hati yang terbagi enam? Boleh dikata, nyawa yang terbagi enam juga. Untuk enam orang yang berbeda, kupercayakan hatiku untuk mereka.
Saat mereka gembira, rasa gembiraku turut meluber ke mana-mana. Tetapi saat aku melihat salah satu dari mereka menangis, percayalah mirisnya hatiku berlipat ganda apabila kalian bandingkan dengan milik kalian.
Keningmu yang berkerut, membuat otakku ikut mendidih memikirkan solusi.
Kegagalanmu, aku anggap sebagai kegagalanku. Sepenuhnya. Maka aku tak boleh gagal agar kau tidak akan pernah merasakan hal yang sama.
Matamu yang nanar seperti kaca yang hendak merapuh, sukses membuat hatiku ikut sesak. Seperti ada tekanan gas yang mendesak di dalam. Aku akan pura-pura tegar dan menenangkanmu. Tapi tahukah kamu, saat punggungmu tak terlihat dan aku tak sanggup untuk menahannya lagi, luruhlah semua air ini.
Tak bisa kupungkiri, aku sering meledak saat menyadarimu melakukan kesalahan. Tapi semua itu hanya karena aku terlalu khawatir padamu.
Aku ikut terluka.. setiap kali melihat kalian luka. Sekecil apapun, itu cukup menggores hatiku. Perih.
Terima Kasih Banyak :)
Aku ingin menjadi dia yang terlihat begitu super. Begitu indah dalam kesederhanaan. Tapi aku tak ma(mp)u berpura-pura. Aku pernah merasakan betapa lelahnya terjebak dalam lingkaran setan ‘pura-pura’. Pura-pura ikut bahagia, pura-pura tertawa, pura-pura melucu. Aku hanya ingin menjadi diriku dengan sederhana. Dan mencintai diriku dengan sederhana pula. Bukankah cintaku yang kekal di dunia ini pada hakikatnya hanya ada satu, cinta pada diriku sendiri. Aku mencintai diriku saat sedang bercinta dengan Tuhan. Aku mencintai diriku saat sedang bercinta dengan keluargaku. Aku mencintai diriku saat nanti mencintainya juga. Satu langkah pertama sebelum itu semua, aku harus mencintai diriku sendiri... dengan sederhana.
Tapi bolehlah bila aku juga memiliki orang-orang yang kuanggap cukup menginspirasi.
Aku ingin menjadi dia. Yang selalu berusaha untuk membuat semua orang bahagia. Kebahagiaannya adalah hal terakhir yang dia inginkan. Senyumannya adalah ketika mereka juga tersenyum. Namun aku juga tidak ingin menjadi dia dengan segala kelemahannya. Tidak mampu menolak apa yang mereka inginkan tetapi dia sebenarnya tidak menghendaki. Paradoks, dia justru menjadi kuat dengan segala kelemahannya. Berulang kali aku menegur agar dia menjadi orang yang lebih tegas, berulang kali dia mencoba dan tidak bisa. Dia orang yang akan tetap memegang tangan mereka. Seberat apapun, tak akan dia lepaskan. Aku tahu itu. Aku penasaran terbuat dari apa hatinya. Mampu memaafkan saat mereka mengkhianatinya, terutama saat dia mengkhianatinya. Tetap berdiri dan memegang tangan mereka dalam terpaan badai topan sekalipun. Demi Tuhan aku tahu dia telah limbung dan ingin jatuh, tapi dia tidak akan jatuh demi tetap memegang mereka.
Kemudian ada dia yang menempati tempat kedua. Dia yang mengajariku tentang mimpi dan realisasi mimpi. Dia mengajariku bagaimana caranya untuk terbang tanpa takut jatuh. Ketika aku jatuh –katanya-, jangan takut untuk mencoba lagi. Tuhan tidak bisa mengabulkan semua permintaan dalam waktu yang bersamaan. Karena paradigma yang ada mengatakan, selalu ada paradoks antara pintaku, pintamu dan pinta mereka. Dia orang yang selalu penuh dengan mimpi. Hidupnya tentang mimpi dan usaha untuk menggapainya. Yang membuatku heran, dia selalu bisa meraih apa yang dia inginkan. Membuat iri memang. Tapi saat aku menilik ke belakang, ada ribuan kilometer jalan berliku yang telah dia lewati. Tidak mudah, susah. Aku tahu, dia pantas mendapatkannya.
Masih ada beberapa lagi mereka yang menginspirasiku. Mereka yang telah memberikanku pelajaran hidup, meski aku tahu mereka tidak –atau mungkin belum- menyadarinya. Untuk mereka, orang yang mengajariku menulis dengan hati, orang-orang yang mengajariku berusaha untuk merealisasikan mimpi, orang yang mengajariku untuk selalu ingat akan adanya akhir dari kehidupan ini, orang yang mengajariku tentang mencintai dan dicintai, orang yang mengajariku tentang indahnya ketulusan hati... terima kasih.
Tapi bolehlah bila aku juga memiliki orang-orang yang kuanggap cukup menginspirasi.
Aku ingin menjadi dia. Yang selalu berusaha untuk membuat semua orang bahagia. Kebahagiaannya adalah hal terakhir yang dia inginkan. Senyumannya adalah ketika mereka juga tersenyum. Namun aku juga tidak ingin menjadi dia dengan segala kelemahannya. Tidak mampu menolak apa yang mereka inginkan tetapi dia sebenarnya tidak menghendaki. Paradoks, dia justru menjadi kuat dengan segala kelemahannya. Berulang kali aku menegur agar dia menjadi orang yang lebih tegas, berulang kali dia mencoba dan tidak bisa. Dia orang yang akan tetap memegang tangan mereka. Seberat apapun, tak akan dia lepaskan. Aku tahu itu. Aku penasaran terbuat dari apa hatinya. Mampu memaafkan saat mereka mengkhianatinya, terutama saat dia mengkhianatinya. Tetap berdiri dan memegang tangan mereka dalam terpaan badai topan sekalipun. Demi Tuhan aku tahu dia telah limbung dan ingin jatuh, tapi dia tidak akan jatuh demi tetap memegang mereka.
Kemudian ada dia yang menempati tempat kedua. Dia yang mengajariku tentang mimpi dan realisasi mimpi. Dia mengajariku bagaimana caranya untuk terbang tanpa takut jatuh. Ketika aku jatuh –katanya-, jangan takut untuk mencoba lagi. Tuhan tidak bisa mengabulkan semua permintaan dalam waktu yang bersamaan. Karena paradigma yang ada mengatakan, selalu ada paradoks antara pintaku, pintamu dan pinta mereka. Dia orang yang selalu penuh dengan mimpi. Hidupnya tentang mimpi dan usaha untuk menggapainya. Yang membuatku heran, dia selalu bisa meraih apa yang dia inginkan. Membuat iri memang. Tapi saat aku menilik ke belakang, ada ribuan kilometer jalan berliku yang telah dia lewati. Tidak mudah, susah. Aku tahu, dia pantas mendapatkannya.
Masih ada beberapa lagi mereka yang menginspirasiku. Mereka yang telah memberikanku pelajaran hidup, meski aku tahu mereka tidak –atau mungkin belum- menyadarinya. Untuk mereka, orang yang mengajariku menulis dengan hati, orang-orang yang mengajariku berusaha untuk merealisasikan mimpi, orang yang mengajariku untuk selalu ingat akan adanya akhir dari kehidupan ini, orang yang mengajariku tentang mencintai dan dicintai, orang yang mengajariku tentang indahnya ketulusan hati... terima kasih.
Untuk Impian, Harapan dan Cita-cita
Ya allah...
Maafkan aku yang mudah mengeluh.
Aku takut menyadari bahwa aku hampir saja berhenti bermimpi. Atau bahkan sudah? Entahlah, kemarin-kemarin adalah hari super duper suram sekali. Beruntungnya aku memiliki dia yang segera menyadarkanku. Ah fela... lupakah kamu, bahwa manusia adalah seonggok daging yang bermimpi.. aku tidak mau menjadi zombie yang berkeliaran di keramaian jalan hanya karena aku tidak lagi bermimpi.
Aku takut,
Takut kecewa karena tidak berhasil melunasi impian tahun ini. Takut resolusi mimpi 2009-ku terberai di tengah jalan. Takut tidak bisa menjadi ‘dia yang bertanggung jawab dengan pilihannya’. Ketakutan-ketakutan pecundang yang kemudian membawaku pada sebuah titik untuk melepaskannya saja. Padahal aku masih berlari. Melepaskan mimpi saat menyadari sinyal-sinyal aku tidak akan mampu menyentuh khatulistiwa. Dan aku telah melakukan kesalahan besar dengan berniat melepaskannya karena aku masih berlari mengejarnya, aku masih dapat meraihnya. Ini belum mencapai titik kulminasi. Toh apabila akhirnya tidak sesuai harapan, aku masih memiliki ribuan kesempatan lain.
Aku tidak boleh berhenti bermimpi. Untuk impian, harapan dan cita-cita.. maafkan aku yang hampir saja melepasmu karena takut kecewa. Dan untuknya, terima kasih... banyaaaak
Maafkan aku yang mudah mengeluh.
Aku takut menyadari bahwa aku hampir saja berhenti bermimpi. Atau bahkan sudah? Entahlah, kemarin-kemarin adalah hari super duper suram sekali. Beruntungnya aku memiliki dia yang segera menyadarkanku. Ah fela... lupakah kamu, bahwa manusia adalah seonggok daging yang bermimpi.. aku tidak mau menjadi zombie yang berkeliaran di keramaian jalan hanya karena aku tidak lagi bermimpi.
Aku takut,
Takut kecewa karena tidak berhasil melunasi impian tahun ini. Takut resolusi mimpi 2009-ku terberai di tengah jalan. Takut tidak bisa menjadi ‘dia yang bertanggung jawab dengan pilihannya’. Ketakutan-ketakutan pecundang yang kemudian membawaku pada sebuah titik untuk melepaskannya saja. Padahal aku masih berlari. Melepaskan mimpi saat menyadari sinyal-sinyal aku tidak akan mampu menyentuh khatulistiwa. Dan aku telah melakukan kesalahan besar dengan berniat melepaskannya karena aku masih berlari mengejarnya, aku masih dapat meraihnya. Ini belum mencapai titik kulminasi. Toh apabila akhirnya tidak sesuai harapan, aku masih memiliki ribuan kesempatan lain.
Aku tidak boleh berhenti bermimpi. Untuk impian, harapan dan cita-cita.. maafkan aku yang hampir saja melepasmu karena takut kecewa. Dan untuknya, terima kasih... banyaaaak
Untuk Impian, Harapan dan Cita-cita
Ya allah...
Maafkan aku yang mudah mengeluh.
Aku takut menyadari bahwa aku hampir saja berhenti bermimpi. Atau bahkan sudah? Entahlah, kemarin-kemarin adalah hari super duper suram sekali. Beruntungnya aku memiliki dia yang segera menyadarkanku. Ah fela... lupakah kamu, bahwa manusia adalah seonggok daging yang bermimpi.. aku tidak mau menjadi zombie yang berkeliaran di keramaian jalan hanya karena aku tidak lagi bermimpi.
Aku takut,
Takut kecewa karena tidak berhasil melunasi impian tahun ini. Takut resolusi mimpi 2009-ku terberai di tengah jalan. Takut tidak bisa menjadi ‘dia yang bertanggung jawab dengan pilihannya’. Ketakutan-ketakutan pecundang yang kemudian membawaku pada sebuah titik untuk melepaskannya saja. Padahal aku masih berlari. Melepaskan mimpi saat menyadari sinyal-sinyal aku tidak akan mampu menyentuh khatulistiwa. Dan aku telah melakukan kesalahan besar dengan berniat melepaskannya karena aku masih berlari mengejarnya, aku masih dapat meraihnya. Ini belum mencapai titik kulminasi. Toh apabila akhirnya tidak sesuai harapan, aku masih memiliki ribuan kesempatan lain.
Aku tidak boleh berhenti bermimpi. Untuk impian, harapan dan cita-cita.. maafkan aku yang hampir saja melepasmu karena takut kecewa. Dan untuknya, terima kasih... banyaaaak
Maafkan aku yang mudah mengeluh.
Aku takut menyadari bahwa aku hampir saja berhenti bermimpi. Atau bahkan sudah? Entahlah, kemarin-kemarin adalah hari super duper suram sekali. Beruntungnya aku memiliki dia yang segera menyadarkanku. Ah fela... lupakah kamu, bahwa manusia adalah seonggok daging yang bermimpi.. aku tidak mau menjadi zombie yang berkeliaran di keramaian jalan hanya karena aku tidak lagi bermimpi.
Aku takut,
Takut kecewa karena tidak berhasil melunasi impian tahun ini. Takut resolusi mimpi 2009-ku terberai di tengah jalan. Takut tidak bisa menjadi ‘dia yang bertanggung jawab dengan pilihannya’. Ketakutan-ketakutan pecundang yang kemudian membawaku pada sebuah titik untuk melepaskannya saja. Padahal aku masih berlari. Melepaskan mimpi saat menyadari sinyal-sinyal aku tidak akan mampu menyentuh khatulistiwa. Dan aku telah melakukan kesalahan besar dengan berniat melepaskannya karena aku masih berlari mengejarnya, aku masih dapat meraihnya. Ini belum mencapai titik kulminasi. Toh apabila akhirnya tidak sesuai harapan, aku masih memiliki ribuan kesempatan lain.
Aku tidak boleh berhenti bermimpi. Untuk impian, harapan dan cita-cita.. maafkan aku yang hampir saja melepasmu karena takut kecewa. Dan untuknya, terima kasih... banyaaaak
Langganan:
Postingan (Atom)