Senin, 01 Februari 2010

jatuh (tanpa) cinta

Ada orang pernah bercanda,
Jatuh cinta akan membuatmu menjadi penyair seketika
Kali ini biarkan aku yang bercanda,
Jatuh, tanpa cinta, akan membuatmu menjadi penyair paling hebat sepanjang masa
Jatuh, karena kecewa
Jatuh, karena terjegal kerasnya hidup
Jatuh, karena kau terlalu lelah untuk tegap kembali
Jatuh, dan merasakan dinginnya di kedalaman sana
Jatuh, dan tidak bisa melihat apapun di sana saking gelapnya

Kau hanya ingin orang lain jatuh bersamamu
Karenanya kau menyalurkan rasamu melalui aksara
Kau hanya ingin orang lain ikut merasakan perihnya
Kau hanya ingin orang lain ada di sisimu, hingga takutmu menjadi berkurang
Kau hanya ingin orang lain ada di sisimu, hingga beban nistamu tak seberat sebelumnya

Aku tidak membicarakan orang lain yang berkonotasi kekasih
Aku membicarakan orang lain yang memang orang lain adanya
orang lain yang tidak kau sayangi hingga kau tega menariknya dalam jurang yang sama denganmu

aku tidak suka

Aku sudah menebaknya
Sejak semula
Tapi kali ini aku tak akan rela jika benar tebakanku
Aku lebih memilih kalah lotere ribuan juta daripada merasakan sakit lagi
Egoku terus kau ungguli
Aku tidak suka

masih perlukah aksara?

Depresi. Stress. Hampir gila.
Mengapa tidak ada yang mengerti??
Perlukah aksara bila ekspresi bisa menjelaskan semua?
Perlukah aku menjelaskan satu satu ke semua?
Bila sedetik lagi aku menjadi gila?
Bila sedetik lagi aku akan meraih pisau di sana dan menggoreskannya ke nadiku?
Tolong.
Ada pembunuh di dalam diriku
Pembunuh yang akan meracuni pikiran dan hatiku,
Sedikit demi sedikit
Namun pasti adanya

dilema

Ada orang yang pernah bilang, lebih baik aku menjadi lampu yang bersinar redup, namun berada di tengah kegelapan

Daripada menjadi lampu dengan sinar yang menyala terang, namun berada di antara lampu-lampu mercusuar

Adakah kau menangkap sarkasme di sana?

Adakah kau menangkap suatu ketidakpercayaan?

Adakah kau menangkap suatu ketakutan? Suatu kerendahan?

Suatu rasa yang membuatmu terpaksa menciut, bersembunyi di balik semua digdaya

Digdaya yang seharusnya kau miliki, tapi tak pernah engkau keluarkan

Karena kau tidak memberinya kesempatan

Bah, katakan padaku apa itu kesempatan!!

Masih adakah kesempatan untuk sebuah sinar, untuk diperhatikan, apabila dia bersanding di antara jutaan lampu yang juga bersinar semua?

Sepasang mata akan bingung untuk memilih,

Kalau saja aku masih bisa memilih,

Aku bingung hendak memilih tempat yang mana

Namun sejujurnya, aku merindukan tempatku terdahulu,

Di dalam suatu ruangan yang pengap dan gelap,

Namun dengan sepasang mata yang bersorot lembut, mengucapkan terima kasih karena aku telah menerangi gelapnya

Seberapa reduppun sinarku, tapi paling tidak hanya aku seorang lampu yang menyala di sana.

terluka

Apa peduliku akan empati
Apa peduliku akan simpati
Aku tidak peduli lagi
Kau telah terlanjur mengoyak-ngoyak perasaanku
Seperti sebelumnya, seperti biasanya
Diammu menambah luka
Itulah yang paling salah!!
Kau tidak pernah berbuat salah!
Itulah yang paling salah, yang paling menyakitiku

mati untuk hidup

Aku harus bagaimana?
Biarkan aku menikmati kematian ini sejenak,
Biarkan aku menikmati sakit ini sejenak,
Jangan kau kira aku menyerah bersama kekalahan
Aku hanya berdamai dengannya
Perihnya, hendak kukekalkan dahulu
Sebelum aku melangkah maju,
Dan kukalahkan hidup

lost.

Bisikkan padaku, yang mana batasnya!
Di mana batasnya!
Karena saat itu aku tidak merasa pernah melewatinya,
Karena saat itu aku tidak melihat pernah melewatinya,
Karena saat itu aku tidak mendengar orang berteriak padaku, hendak mencegah kakiku yang akan melanggarnya
Namun sekarang setelah aku sadar,
Aku telah jauh sekali dari setapak kecil jalanku,
Aku tersesat.
Tanganku menggapai
Sia-sia, yang ada aku menemukan tangan ini membeku di udara
Kaki-kakiku berlari mundur ke belakang
Sia-sia, yang ada aku hanya menemukan tanah lapang tanpa batas
Garis horizon di belakangku, seakan terlalu angkuh untuk disentuh
Aku ingin kembali,
Ke setapak kecil jalanku
Aku ingin kembali,
Merasakan betapa indahnya jalanan itu
Merasakan betapa kuatnya pijakan kakiku dulu
Ya Tuhan, Astaga....
Aku telah tersesat.
AKU INGIN PULANG

They are the reason, I do what do and I did what I did

Goo Goo Dolls - Iris